Kamis, 29 Maret 2012

ASI >< Susu Formula

PERBEDAAN ASI dan SUSU FORMULA

(1) ASI, nutrisi yang sempurna untuk setiap bayi 

ASI : Mengandung zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi. Antara lain, faktor pembentuk sel-sel otak, terutama DHA, dalam kadar tinggi. ASI juga mengandung protein whey (protein utama dari susu yang berbentuk cair) lebih banyak daripada casein (protein utama dari susu yang berbentuk gumpalan) dengan perbandingan 65 : 35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah diserap oleh tubuh bayi.

Susu formula : Perbandingan whey dan casein dalam susu sapi adalah 20 : 80 sehingga tidak seluruh zat gizi yang terkandung di dalamnya dapat diserap oleh tubuh bayi. Misalnya, protein susu sapi tidak mudah diserap karena mengandung lebih banyak casein. Ginjal bayipun harus dipaksa bekerja ekstra keras untuk membuang casein. Hal ini dapat menyebabkan anak mengalami gagal ginjal di usia dini.

(2). ASI  mudah dicerna 

ASI : Pembentukan enzim pencernaan bayi baru sempurna pada usia kurang lebih 6 bulan. ASI sangat mudah dicerna bayi karena ASI merupakan cairan hidup yang mana di dalam ASI mengandung enzim-enzim yang dapat membantu proses pencernaan.

Susu formula : sulit dicerna, karena dalam susu formula tidak mengandung enzim pencernaan. Akibatnya, lebih banyak sisa pencernaan yang dihasilkan dari proses metabolisme (proses pembakaran zat-zat di dalam tubuh menjadi energi, sel-sel baru, dan lain-lain) yang membuat ginjal bayi harus bekerja keras.

(3). Komposisi ASI sesuai kebutuhan bayi 

ASI : Komposisi zat gizi ASI sejak hari pertama menyusui biasanya berubah dari hari ke hari. Misalnya kolostrum (cairan bening berwarna kekuningan yang biasanya keluar pada awal kelahiran) terbukti mempunyai kadar protein yang lebih tinggi, serta kadar lemak dan laktosa (gula susu) yang lebih rendah dibandingkan ASI mature (ASI yang keluar hari ke-10 setelah melahirkan). Kandungan kolostrum yang seperti ini akan membantu system pencernaan bayi baru lahir yang memang belum berfungsi optimal. Selain itu komposisi ASI pada saat mulai menyusui (foremilk) berbeda dengan komposisi pada akhir menyusui (hindmilk). Kandungan protein fore milk (berwarna bening dan encer) tinggi, tetapi kandungan lemaknya rendah bila dibandingkan dengan hind milk (berwarna putih dan kental). Semakin sering menyusui pada payudara yang kosong (tidak menimbun ASI), semakin banyak Hind milk yang akan di dapatkan bayi. ASI hindmilk kaya dengan lemak essential yang baik untuk perkembangan otak dan mata bayi.

Susu Formula : Komposisinya tetap, dan lemak pada susu formula sulit untuk di uraikan oleh tubuh bayi karena di dalam susu formula memiliki lebih banyak asam lemak tak jenuh rantai pendek, sedangkan lemak tak jenuh nya hanya 3%.

(4). ASI, cairan hidup yang mengandung zat imun 

ASI : Mengandung banyak zat pelindung, antara lain immunoglobulin dan sel-sel darah putih hidup. Selain itu, ASI mengandung faktor bifidus. Zat ini penting untuk merangsang pertumbuhan bakteri Lactobacillus bifidus yang membantu melindungi usus bayi dari peradangan atau penyakit yang ditimbulkan oleh infeki beberapa jenis bakteri merugikan, seperti keluarga coli .

Susu formula : hanya sedikit mengandung immunoglobulin, dan sebagian besar merupakan jenis yang “salah” (tidak dibutuhkan oleh tubuh bayi),. Selain itu, tidak mengandung sel-sel darah putih dan sel-sel lain dalam keadaan hidup.

(5). Cita rasa ASI bervariasi 

ASI : cita rasa ASI bervariasi sesuai dengan jenis senyawa atau zat yang terkandung di dalamnya. Rasa ASI foremilk (ASI Awal) akan berbeda dengan rasa ASI Hindmilk (ASI Belakang). ASI awal yang lebih encer dan sedikit lemak berfungsi untuk melegakan dahaga, sedangkan ASI hindmlk (ASI belakang) lebih banyak lemak essential dan lebih mengenyangkan, rasanya lebih gurih dibandingkan foremilk (ASI awal).

Susu Formula : Bercita rasa sama, dari waktu ke waktu

(6). KALSIUM dalam ASI Mudah Diserap 
ASI : Kalsium di dalam ASI merupakan mineral yang sangat stabil dan mudah diserap tubuh bayi. walaupun kadar kalsium ASI lebih rendah dari susu formula, tetapi tingkat penyerapannya lebih besar. Penyerapan kalsium ini dipengaruhi oleh kadar fosfor, magnesium, vitamin D dan lemak ASI.

Susu Formula : Kalsium dalam susu formula sangat tinggi, namun Kalsium yang diperlukan tubuh bayi tidak sebesar yang ada dalam susu formula. Kalsium dalam susu formula terdapat dalam lingkungan acid/asam (karena susu tinggi protein dan protein adalah pembentuk asam alias acid forming); padahal kalsium lebih mudah diserap dalam kondiai basa/alkalis. Maka tidak heran jika anak yang diberikan susu formula justru dapat mengalami kekurangan kalsium, dan di masa tua justru terserang osteoporosis. Banyak Iklan susu sapi baik berbentuk susu segar maupun susu yang sudah berbentuk formula di TV yang mengatakan, “kalau tidak minum susu kita kekurangan kalsium”. Kalsium di susu sapi tidak bisa diserap tubuh manusia! Jika kita perhatikan di dalam kemasan susu ada tulisan kecil, sangat kecil, di salah satu sudut kotak atau kaleng susu, yang menuliskan kalimat semacam “Harus disertai dengan aktivitas fisik yang rutin”, jadi mereka bisa mengelak dari pasal penipuan kepada masyarakat bahwa susu tersebut dapat menyebabkan kekurangan kalsium ataupun osteoporosis. Bahkan, ada salah satu produsen susu sapi yang begitu gencar memasarkan produk susu kalsium tapi diembel-embeli dengan kalimat ‘berjalan 10.000 langkah perhari’. Mereka mau menyuruh kakek-nenek yang renta berjalan 10 kilometer sehari? Itu sangat mustahil, bukannya menjadi sehat malah bisa jadi sakit!

(7). ASI Selalu Terjaga Kualitasnya 

ASI: Kandungan vitamin dan mineral dalam ASI dipengaruhi oleh simpanan dalam tubuh ibu, bukan dari asupan vitamin dan mineral secara langsung. Sehingga kualitas ASI akan terjaga kualitasnya sampai kapanpun, kecuali Ibu mengalami GIZI BURUK AKUT.

Susu Formula: Terbuat dari Susu sapi yang diperah dari sapi-sapi yang selalu disuntik "hormon kehamilan" (estrogen dan progesteron). Nah, hormon ini selalu membanjir dalam susu. Akibatnya, bayi/anak-anak peminum susu sapi memiliki risiko lebih besar mengalami pubertas dini, oligospermia (sperma sedikit), kanker reproduksi, dan lebih mudah stres.

(8). Memberikan ASI sama dengan menyayangi Bumi

ASI bersuhu alami segar bebas bakteri, maka tak perlu dipanaskan dan disteril, bisa mengurangi pemborosan  bahan bakar, lagi pula untuk memenuhi kebutuhan susu bubuk yang berlebihan, dunia kita membutuhkan berapa  alam hijau, bahkan menebang pohon pelindung hutan, untuk memelihara sapi perah yang lebih banyak ?
Melepaskan susu bubuk dan menggunakan ASI, bisa menghemat berapa banyak sampah botol dan kaleng susu yang dibuang? Jika setiap wanita setelah melahirkan mau menyusui dengan ASI selama 1 tahun, tentunya akan menghemat berapa banyak pembalut wanita ?

(9). Dengan ASI, Ibu sehat, cantik dan bahagia

Ibu yang menyusui setelah melahirkan zat oxytoxin-nya akan bertambah, sehingga dapat mengurangi jumlah darah yang keluar setelah melahirkan. Kandungan dan perut bagian bawah juga lebih cepat menyusut kembali ke bentuk normalnya. Ibu yang menyusui bisa menguras kalori lebih banyak, maka akan lebih cepat pulih ke berat tubuh sebelum hamil. Ketika menyusui, pengeluaran hormon muda bertambah, menyebabkan ibu dalam masa menyusui tidak ada kerepotan terhadap masalah menstruasi, pada masa ini juga mengurangi kemungkinan terjadinya kehamilan diluar rencana. Menyusui setelah melahirkan dapat mempercepat pemulihan kepadatan tulang, mengurangi kemungkinan menderita osteoporosis (keropos tulang) setelah masa menopause. Menurut statistik, menyusui juga mengurangi kemungkinan terkena kanker indung telur dan kanker payudara dalam masa menopause. Juga ibu yang menyusui tidak perlu bangun tengah malam untuk mengaduk susu bubuk, ketika pergi bertamasya juga tidak perlu membawa setumpuk botol dan kaleng susu, bukankah bisa menjadi seorang ibu yang santai dan gembira.

Lalu muncul pertanyaan, setelah anak disapih maka diberikan susu apa? Jawabannya sudah jelas dan pasti: Anak selepas ASI/disapih TIDAK BUTUH SUSU!

        Seringkali kita jumpai anak di atas usia 2 tahun dipaksa minum susu, orang tuanya tidak sadar bahwa anak itu akan mengalami kesulitan pencernaan, karena enzim pencernaan manusia untuk mencerna susu juga sudah mulai menyusut pada usia 2-3 tahun. Berbarengan dengan itu, gigi manusia pun SUDAH KOMPLIT di usia 2 tahun. Cocok sekali! Lepas dari ASI, kunyah makanan padatnya!

Prof. Hiromi Shinya dalam bukunya The Miracle of Enzyme mengungkapkan, pangkal atau miskonsepsi dimana intoleransi laktosa kadang dianggap tidak ada saat sang anak tidak mencret waktu minum susu. Padahal sang anak menunjukan gejala alergi lain, infeksi kulit, eksim, gatal-gatal, sembelit, obesitas, mudah terserang penyakit hingga asma.

Sebenarnya, sumber kalsium yang baik dan mudah diserap tubuh banyak terdapat pada sayuran hijau. Misalnya daun kelor (Moringa oleifera). Kalsium dalam 100gr daun kelor segar setara dengan kalsium pada 6 gelas susu sapi segar. Bahkan mengonsumsi 1 cangkir selada bokor (iceberg lettuce) memberikan kekuatan tulang yang mana di hari tua dapat mencegah terjadinya patah tulang panggul! (telah dirisetkan oleh para ahli dari Harvard University, Amerika Serikat yang melibatkan 72.000 wanita).

Kalsium pada susu yang bukan ASI, TIDAK DIKENAL oleh tubuh manusia karena bersifat "Non-bio-available"- jadi, bukannya membuat tulang manusia lebih kuat, malah kalsium akan berpindah ke tempat yang salah dan tempat yang paling sering menjadi sasaran pendaratan kalsium adalah dinding pembuluh darah! Bukannya mendapatkan manfaat positif dari susu, justru penyakit yang akan di derita yaitu penebalan dinding pembuluh darah dan segala akibatnya (sebagaimana telah dipaparkan dalam salah satu jurnal kedokteran anak oleh Dr. Frank Oski, Upstate Medical Center Department of Pediatrics, USA).

Orang Amerika dan Eropa Utara mengonsumsi 800 mg - 1200 mg kalsium sehari, tapi tetap saja mereka lebih menderita osteoporosis/keropos tulang daripada orang Asia dan Afrika yang mengonsumsi 300 mg - 500 mg kalsium per hari. Mengapa? daging merah, gula, tepung dan bahan makanan berupa bumbu non-alam menyebabkan keasaman darah meningkat. Untuk menetralisirnya, tubuh mengambil kalsium (yang bersifat alkalis) dari tulang.

Sehingga masalah osteoporosis bukanlah bahwa seseorang itu tidak cukup memakan kalsium. Masalahnya adalah mereka kehilangan kalsium. Dengan demikian, mengasup lebih banyak kalsium ke dalam tubuh bukanlah jawabannya, karena justru dapat menyebabkan kehilangan lebih banyak kalsium daripada kalsium yang di asup. Apabila ekstra kalsium yang dikonsumsi berasal dari makanan yang mengandung protein tinggi seperti susu, keju dan es krim, keadaan menjadi lebih buruk karena makanan ini adalah pembentuk asam yang sangat tinggi. Tubuhpun kan semakin kehilangan kalsium.

Belum lagi jika susu sapi yang miskin gizi itu ditambahkan dengan zat-zat/asam amino yang diduga sebagai bagian dari kebutuhan perkembangan saraf dan otak. Padahal, kecerdasan LEBIH DARI SEKADAR ASAM AMINO atau zat yang ditambahkan tersebut.

Dari hasil konvensi dunia (World Breastfeeding Week, 1-7 Agustus 2006), Elisabeth Sterken, BSc.MSc Nutritionist INFACT Canada/North America menuliskan bahwa susu bukan ASI menyebabkan: meningkatnya risiko asma, alergi, penurunan perkembangan kecerdasan, peningkatan risiko infeksi saluran napas atas, kekurangan nutrisi, risiko kanker masa anak, risiko penyakit kronik, risiko diabetes, risiko penyakit kardiovaskuler/jantung, risiko kegemukan, risiko infeksi pencernaan, risiko radang telinga, risiko semua efek samping akibat PENAMBAHAN ZAT YANG TIDAK SEMESTINYA DALAM SUSU BUBUK/CAIR (sudah pernah terbukti mulai bakteri sampai kandungan melamin). Coba perhatikan label makanan produksi pabrik yang terdapat di balik kemasan. Mungkin anda akan mengerenyitkan dahi karena ternyata semua susu sudah mengandung laktosa/gula susu, seperti tersebut di atas.

Namun supaya anak suka dengan susu pabrikan tersebut, pabrik susu menambahkan "sukrosa" (gula rantai panjang!) atau "corn syrup" (gula 'pembunuh' nomor satu di Amerika Serikat), belum lagi "perisa" atau nama lainnya adalah perasa SINTETIS!, dan susunya pun berasal dari "skimmed, powdered, milk". Bahkan susu cair pun melalui proses skim dahulu. Anda mungkin bisa terheran-heran, mengapa susu yang sudah cair perlu dijadikan bubuk, lalu dibuat 'cair' lagi. 30-40 tahun yang lalu, ketika anak Indonesia mentah-mentah menolak susu karena tidak doyan bau susu dan harus 'dipaksa' minum, produsen susu membuat WHOLE MILK atau susu full cream agar disukai anak!

Semestinya para pakar yang memang mau menyuarakan tentang susu, sebelumnya perlu mengikuti konvensi dunia serupa ini yang memang diselenggarakan bagi para pakar, pengayom kesehatan dan informasi yang terbaru bagi masyarakatnya. Yaitu konvensi ilmiah yang berkualitas tinggi dan kredibel yang diselenggarakan tanpa sponsor pabrik teknologi pangan atau farmasi yang mempunyai kepentingan di dalamnya!

SALAM CINTA ASI
HZ LACTATION CENTER

Tidak ada komentar:

Posting Komentar