Kamis, 29 Maret 2012

TIPS SUKSES WEANING WITH LOVE (WWL)

TIPS SUKSES WEANING WITH LOVE (WWL)
Melengkapi dokumen tentang Weaning With Love, sharing pengalaman pribadiku, suami, dan putri sulungku.
Weaning With Love atau Menyapih Dengan Cinta, dalam persepsi saya pribadi yang merupakan hasil dari mempelajari beberapa teori dan ilmu tentang penyapihan yang dipadukan dengan pengalaman pribadi dengan anak sulung saya, yg namanya WWL bukanlah tentang kapan harus benar-benar berhasil berhenti menyusui, melainkan tentang BAGAIMANA cara menyapih yang paling tepat hingga tetap berasa cintanya.
Bagi saya dan suami, kami sepakat bahwa menjelang usia 2 tahun (kurang lebihnya atau pas 2 tahun adalah pilihan masing-masing orang tua, tidak ada larangan) adalah saat yg tepat utk MEMULAI memberi pengertian kepada anak bahwa sudah saatnya dia tidak lagi manyusu. Ingat ya, memulai dalam hal ini berarti pertama kali dan belum jelas kapan berakhirnya. Alasan atau pengertian yang akan kita sampaikan pada anak bisa apa saja, tergantung kreatifitas orang tuanya sesuai bahasa yang kira-kira bisa dimengerti si anak. Sebagai contoh : karena kakak sudah gedhe, ASI hanya buat adik bayi, kakak minumnya air putih, atau kalimat lain yang positif, sedangkan keputusan kapan dia benar-benar berhenti menyusu adalah keputusan si anak, kita sebagai orang tua tinggal mengikuti saja prosesnya dengan tetap bersabar, konsisten, dan disiplin.
TIPS yg bisa saya bagi sejauh yang pernah kami alami  adalah sebagai berikut :

1. SIAPKAN TIM SUKSES
Sebagaimana kesuksesan menyusui, menyapih pun juga membutuhkan tim sukses. Tim yang dimaksud tentu saja Bunda, Ayah, dan anak itu sendiri. Selain mereka bertiga adalah orang-orang disekitar anak, bisa kakek-nenek, atau asisten/pengasuh dan orang lain yg tinggal bersama si anak. Pastikan para anggota tim sukses ini sudah sepakat dan setuju kapan memulai penyapihan, jangan ada perbedaan bahkan perdebatan yang justru akan membingungkan si anak dalam proses ini. Disini saya sebut anak karena saya anggap bukan bayi lagi, bahasa inggrisnya "toddler".

2. PRINSIP DON’T OFFER BUT DON’T REFUSE
Don’t offer berarti jangan menawarkan, don’t refuse berarti juga jangan menolak. Membingungkan pasti ya karena ini seakan-akan menuntut Bunda untuk pasif, dimana anak pastinya banyak memintanya meski tanpa ditawarkan (not offer), sehingga pastinya juga Bunda tidak akan sanggup menolak (refuse), nah jika sudah seperti ini pasti Bunda akan mulai bertanya, Lalu kapan menyapihnya kalo begini terus?? Pengalaman saya, ternyata hal ini memang sulit sekali diterapkan murni 100%, akan tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Prinsip ini penting karena jika dilanggar, salah satu efek negatifnya jika kita refuse dengan cara yang kasar dan salah ketika anak meminta adalah anak bisa menangis keras, sulit berhenti yang dapat membawa dampak negatif bagi psikologisnya kelak, bahkan merusak hubungan indah yang selama ini sudah terjalin selama menyusui. Untuk menghindari ini, kita juga harus bisa membedakan manakah permintaan menyusu yang sekiranya masih bisa dialihkan dengan hal lain atau tidak, sehingga tidak asal menuruti, tetapi juga tidak serta-merta menolak permintaannya. Dan agar prinsip ini tetap dapat diterapkan, ada hal lain yg menuntut Bunda dan tim sukses lainnya untuk aktif dilakukan, kita lihat tips berikutnya ya.

3. TANPA MENGGUNAKAN TIPUAN/KEBOHONGAN PADA ANAK
Yang saya maksud disini contohnya adalah hal yang sering disarankan orang tua kita dahulu, seperti : membuat puting seolah-olah luka/sakit dengan diberi pewarna merah darah atau menempelkan perban  sehingga anak tidak mau lagi menyusu karena takut menyakiti bundanya; atau denagn cara lain misalnya memberi sebuah sensasi rasa pahit/pedas di puting sehingga bayi kapok untuk menyusu. Tinggalkan jauh-jauh pikiran untuk menyapih dengan cara ini, dengan cara ini sama saja kita mengajarkan sebuah kebohongan ke anak bahwa terjadi sesuatu di puting bunda yg mnyebabkan dia tidak bisa menyusu lagi. Banyak teori yang mengatakan bahwa hal ini memberi dampak yang negatif ke psikologi anak seperti merusak hubungan kasih sayang/bonding yang selama ini sudah terbentuk ketika masih menyusui, anak menjadi trauma, dan menciptakan jarak antara Bunda dan anak abhkan hingga dewasa. Tapi pada kenyataannya, ada juga anak yang tetap tidak berhasil disapih meski dengan cara seperti ini, tetap saja mau menyusu seolah tidak peduli dengan rasanya. Bukti bahwa setiap anak itu Unik.

4. MEMBERIKAN PENGERTIAN/SUGESTI KEPADA ANAK SECARA BERULANG-ULANG DENGAN KALIMAT YANG POSITIF/PERSUASIF.
Untuk melaksanakan tips yang ketiga ini, orang tua terutama Bunda harus disertai perasaan yakin dan percaya diri bahwa anak seusia ini telah cukup cerdas dan pintar sehingga mengerti apa yang akan kita sampaikan, yakin bahwa mereka mampu untuk berproses belajar dan belajar terus. Mulailah dengan mengggunakan kata-kata yang positif ketika menyampaikan, SEPERTI : kakak pintar, salih/saliha, kan sudah gedhe, nenen kan buat adik bayi, jadi kakak belajar gak menyusu bunda lagi ya, kaka minumnya air putih ya,...dst. (pengalaman kami, kata-kata ini biasanya keluar secara spontan kok).

5. HYPNOTERAPI DI SAAT YANG PALING TEPAT
Sebenarnya ada istilah khusus untuk hal ini, tapi saya lupa dan belum menemukannya, seiring waktu akan saya perbaiki tulisan ini. Secara praktiknya, terkait dengan tips no.4, ada saat yang paling tepat untuk menanamkan sugesti ini ke dalam memori otak anak hingga kealam bawah sadarnya, yaitu saat menjelang tidurnya, terutama di malam hari. Ketika anak sudah sangat mengantuk tetapi masih sadar dan belum benar-benar tertidur, bisikkan secara lembut ke telinganya kata-kata yang sama sebagaimana tips no.4, dan nikmatilah setiap reaksinya yang unik. Awalnya mungkin dia menolak, terkadang bergumam mengiyakan, atau hanya sekedar merengek karena sangat mengantuk. Terus lakukan ini berulang setiap kali akan tidur, insya Alloh efektif mempermudah proses penyapihan selanjutnya.

6. ALIHKAN PERHATIANNYA DENGAN HAL LAIN YANG DISUKAINYA DAN ALWAYS PREPARE FOR THAT
Selain memberikan pengertian dan sugesti dengan kata-kata diatas, kita juga harus aktif menyiapkan kegiatan, makanan atau benda apa saja yang sekiranya bisa mengalihkan perhatiannya ketika anak menunjukkan tanda ingin menyusu, biasanya adalah hal yang paling disukai si anak. Contohnya adalah :
  1. Menyusu  sewaktu-waktu. Jika permintaan menyusu muncul sewaktu-waktu, maka sebagaimana tips no.2, maka kita harus bisa membedakan manakah permintaan menyusu yang kiranya perhatiannya masih bisa dialihkan dengan hal lain atau tidak, sehingga tidak asal menuruti, tetapi juga tidak serta-merta menolak permintaannya. Nah jika ternyata bisa dialihkan, siapkan makanan atau kegiatan yang dia sukai dengan melibatkan orang lain (tim sukses) sehingga bukan hanya Bunda yang ada, karena jika Bunda sendirian, hal ini akan lebih susah dilakukan karena anak akan mudah ingat untuk menyusu kembali meskipun sedang asik bermain. Jika perlu anak dibawa bermain oleh tim sukses lainnya. Jika dengan saya dan ayahnya, Anak saya paling mudah dialihkan dengan kegiatan menggambar, mewarnai, menempel dan main ayunan dengan boneka favoritnya. Sedangkan jika dengan kakek-neneknya paling mudah jika diajak jalan-jalan keliling komplek atau ke toko beli kue.
  2. Menyusu saat menjelang tidur. Ini saat menyapih yang paling sulit dan berat. Biasanya anak menyusu sebelum tidur dapat diganti dengan menawarkan menggendongnya ketika akan tidur (akan lebih mudah jika hal ini dilakukan oleh ayah), atau sambil menina bobokkan, atau dengan dipijit kaki/badannya, ada yang sambil minum air putih, sambil memegang boneka favoritnya atau dengan dongeng sebelum tidur. Tawarkan semua hal ini sambil terus lakukan hypnoterapi hingga anak memilih dan Bunda menemukan mana yang sesuai dengan kemauannya sebagai ganti keinginan menyusu tsb. Dan jika anak sudah memilih, maka siapkanlah semua itu setiap kali akan tidur. Anak saya dulu awalnya minta gendong, dan karena tandem dengan si adik, akhirnya saya ninabobokan dikasur tanpa menggendong, dan dia minta dipijit sebagai gantinya, sampai sekarang. Kami juga siapkan air putih jika sewaktu-waktu dia terbangun tengah malam minta menyusu.

6. KONSISTEN, DISIPLIN, KOMPAK
Konsisten berarti teguh pendirian, tidak plin-plan atau ragu-ragu. Sikap yang tidak konsisten justru akan membuat anak bingung dan bahkan meremehkan setiap hal serius yang kita sampaikan, dan gagal lah semua usaha yang kita lakukan jika anak sudah tidak menganggap serius kita. Disiplin berarti tertib, sesuai komitmen, sesuai rencana, sesuai tahapan. Sikap yang tidak disiplin hanya akan akan memperlambat proses karena akan sulit mendapatkan kemajuan. Kompak berarti sejalan, bersinergi, saling mendukung antara seluruh tim sukses sehingga anak akan lebih mudah mengerti, penurut, tidak memihak (merasa lebih disayang oleh yang membelanya), dan tidak bingung siapa yang harus diikutinya. Ketidakkompakan akan membuat anak bingung, tidak menghargai yang lain, apalagi jika antara orang tua dan kakek-neneknya tidak kompak, akan lebih sulit berproses.  Sebenarnya ketiga hal ini berlaku untuk semua pembelajaran anak lho, bukan hanya hal penyapihan saja.

7. PERSIAPAN MENTAL BUNDA
Ketika proses weaning mulai menunjukkan hasilnya, ada hal khusus bagi mental bunda yang harus disiapkan. Mungkin ketika awal memutuskan untuk mulai menyapih, bunda berpikir akan mudah jika anak sudah tidak menyusu, tidak lelah, tidak bangun-bangun malam lagi untuk menyusui, tidak repot, lebih santai dan bayangan postitif lainnya.  Pada kenyataannya ada perasaan yang bertentangan dengan itu semua yang harus bunda siapkan. Bunda bisa tiba-tiba saja menjadi merasa kehilangan, hampa, was-was, kawatir yang hampir sama dengan baby blues. Merasa kehilangan karena anak yang selama ini nempel tiba-tiba menyapih dirinya dari bunda, hampa karena bonding yang selama ini didapat ketika menyusui juga perlahan berkurang, was-was dan kawatir akan kesehatannya ketika sakit yang biasanya sembuh hanya dengan minum ASi, lalu nanti bagaimana jika sudah tidak menyusu, dst. Ketika perasaan ini melanda, siapkan mental bunda dengan berbagai hal yang positif, seperti misalnya insya Alloh kakak sudah mandiri, gigi sudah lengkap sudah saatnya dia lebih banyak makan dengan mengunyah, kakak siap memiliki adik lagi, malam tidurnya jadi lebih nyenyak Karena tidak mencari-cari nenen lagi, dan berbagai hal positif lainnya. Jangan sampai hal ini justru mematahkan usaha bunda dan ingin kembali menyusui, padahal si anak sudah menunjukkan keputusannya untuk menyapih dirinya. Jika bunda yakin bisa, maka anakpun  juga bisa, begitu pula sebaliknya.

8. SABAR dan DOA
Sejak awal saya sampaikan bahwa WWL adalah tentang CARA yang tepat, bukan SAAT yang tepat, jadi keputusan menyapih ada di tangan si anak dimana reaksi dan waktu yang dibutuhkan masing-masing anak bisa berbeda-beda karena setiap anak memang diciptakan unik. Dan untuk melewati proses yang belum pasti kapan ujungnya ini, hendaklah ayah bunda dan seluruh tim sukses  bersabar menjalaninya, jangan memaksa anak, juga jangan mengolok-olok anak ketika proses menyapih belum berhasil dan dia masih memutuskan untuk menyusu. Tetap nikmatilah saat-saat dia masih menyusu dengan Sabar, ulangi, sabar, ulangi, terus dan terus. Terakhir tentu saja doa agar selalu diberi kemudahan melakukannya, niatkanlah juga dalam rangka menaati perintah Alloh yang bernilai ibadah, dan senantiasa diberikan yang terbaik buat bunda dan anak.

9. KAPAN ANAK BISA DIKATAKAN TELAH MENYAPIH DIRINYA?
Beberapa tanda bahwa WWL berhasil diantaranya :
  1. Masa Don’t offer but don’t refuse terlewati, dimana anak sudah tidak lagi meminta menyusu, bahkan saat bunda tawarkan dia bisa saja menolak, jadi bunda tidak perlu lagi refuse/menolak.
  2. Anak lebih memilih air putih ketika haus. (tidak disarankan menawarkan air minum lain sebagai pengganti ASI kecuali jika sekali-kali diberikan seperti, susu sapi, susu kambing, jus buah, atau nabeez)
  3. Sebagai pengganti pengantar tidur, anak sudah memilih kegiatan lainnya yang disukainya seperti pijat, nina bobo, atau dongeng hingga dia tertidur.
  4. Anak tidak lagi menangis, marah, atau menolak ketika kita ingatkan kata-kata yang sering kita sampaikan kepadanya tentang berhenti menyusu. Bahkan dengan sendirinya dia mengulanginya. Bukti bahwa anak-anak itu cerdas.
Itulah beberapa hal yang bisa kami bagi tentang pengalaman WWL putri sulung kami dimana mungkin  reaksi dan proses masing-masing anak akan berbeda hasilnya dan untuk anak saya ternyata memakan waktu lebih cepat dari yang kami targetkan ( 1 bulan lebih awal). Hingga saat ini saya tetap merasa tidak 100% murni berhasil WWL karena ada kalanya demi menjaga konsistensi dan disiplin kami biarkan dia menangis keras tentu dalam standar yang kami anggap masih wajar karena kami tahu resiko dan bahayanya membiarkan anak menangis terlalu lama. Tapi setidaknya hati ini tenang karena dialah yang memutuskan kapan tidak menyusu saya lagi dan tidak pula dengan cara kuno yang mengajarkan kebohongan pada anak. Bonding yang saya dapatkan pun hingga saat ini masih ada. Oleh karenanya, jika ada tips tambahan monggo dibagi disini bersama saya dan harapan saya semoga ayah bunda lain bisa lebih sukses mewujudkan WWLnya. Semoga bermanfaat.

Catatan Khusus : Tulisan diatas murni berdasarkan pengalaman pribadi dan belum ada penelitian ilmiahnya, jadi hasil dari TIPS diatas mungkin berbeda-beda pada setiap anak yang memang diciptakan berbeda dan unik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar